Di antara hamparan bukit-bukit batu yang mengelilingi lembah kota suci Makkah Al-Mukarramah, Jabal Tsur menyimpan memori sejarah yang sarat akan ujian keimanan, strategi militer tingkat tinggi, dan pengorbanan persahabatan sejati dalam dakwah Islam. Bagi para jamaah yang sedang menunaikan ibadah umroh, memandang kemegahan Jabal Tsur bukan sekadar menikmati lanskap alam jazirah Arab, melainkan menyelami kembali salah satu babak paling genting dalam sirah nabawiyah: peristiwa hijrah Rasulullah SAW dari Makkah menuju Madinah pada tahun 622 Masehi.
Di puncak bukit yang terjal dan berbatu tajam ini, tersembunyi sebuah celah gua kecil yang dikenal sebagai Gua Tsur. Selama tiga hari tiga malam, gua sunyi ini menjadi benteng perlindungan bagi Nabi Muhammad SAW bersama sahabat paling setia, Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu, dari kejaran pasukan pembunuh Quraisy yang mengepung dengan pedang terhunus. Mengkaji sejarah Jabal Tsur serta memetik hikmah ketawakalan yang sempurna dari peristiwa hijrah tersebut merupakan sarana tadabbur yang sangat berharga untuk mempertebal akidah dan spiritualitas jamaah selama berada di tanah haram.
Ringkasan Artikel: Panduan edukasi sirah nabawiyah dan napak tilas sejarah Islam persembahan biro perjalanan umroh resmi PT Sahabat Dua Arah ini membedah tuntas napak tilas Jabal Tsur dan Gua Tsur sebagai simbol pengorbanan hijrah Nabi SAW dan Abu Bakar Ash-Shiddiq. Pembahasan mengulas detik-detik genting pengepungan kaum Quraisy, keutamaan persahabatan Abu Bakar yang diabadikan dalam Al-Qur'an Surat At-Taubah ayat 40, peran intelijen para sahabat (Ali bin Abi Thalib, Asma binti Abu Bakar, Abdullah bin Abu Bakar, dan Amir bin Fuhairah), karakteristik medan pendakian fisik Jabal Tsur yang lebih berat dari Jabal Nur, tinjauan adab syar'i dalam berziarah, hingga informasi alamat kantor resmi Sadar Group di Medan, Bogor, dan Batam.
Latar Belakang Peristiwa Hijrah dan Pengepungan Rumah Nabi SAW
Memasuki tahun ke-13 kenabian, tekanan, boikot ekonomi, intimidasi fisik, dan penyiksaan yang dilancarkan oleh para pembesar kafir Quraisy terhadap kaum Muslimin di Makkah telah mencapai puncaknya. Setelah sebagian besar sahabat berhijrah secara sembunyi-sembunyi ke Yatsrib (Madinah), para pemuka suku Quraisy berkumpul di Darun Nadwah (gedung parlemen musyawarah Makkah) untuk merancang makar pamungkas. Atas usulan licik Abu Jahal, mereka sepakat memilih seorang pemuda perkasa bersenjata pedang dari setiap kabilah untuk membunuh Nabi Muhammad SAW secara serentak di tempat tidurnya, agar pertumpahan darah tersebut tidak dapat dituntut oleh kabilah Bani Hasyim.
Namun, Allah SWT menurunkan wahyu kepada Nabi SAW perihal makar jahat tersebut dan memerintahkan beliau untuk memulai perjalanan hijrah malam itu juga. Dengan penuh keberanian dan keikhlasan bertaruh nyawa, sahabat muda Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu bersedia menggantikan posisi Nabi SAW tidur di ranjang berselimutkan kain selimut hijau milik beliau. Rasulullah SAW kemudian melangkah keluar rumah melewati kepungan para pembunuh yang tertidur pulas setelah beliau menaburkan butiran debu ke arah kepala mereka seraya membaca ayat mulia Surat Yasin ayat 9:
"Dan Kami jadikan di hadapan mereka sekat dan di belakang mereka sekat, dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat." (QS. Yasin: 9).
Tiga Hari Tiga Malam Bersembunyi di Dalam Gua Tsur
Dalam menyusun taktik pelarian yang mengecoh musuh, Rasulullah SAW menunjukkan kecerdasan strategi militer yang luar biasa. Alih-alih langsung bergerak ke arah utara menuju Madinah yang merupakan rute umum yang diperkirakan kafir Quraisy, Nabi SAW bersama sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq justru bergerak memutar ke arah selatan menuju Jabal Tsur. Beliau memilih bersembunyi di dalam sebuah gua sempit di puncak gunung tersebut hingga kondisi pencarian mereda.
Selama tiga hari tiga malam bersembunyi di Gua Tsur, sebuah jaringan pendukung rahasia yang terorganisir dengan sangat rapi dijalankan oleh keluarga Abu Bakar Ash-Shiddiq:
- Abdullah bin Abu Bakar: Pemuda cerdas yang bertugas sebagai pencari informasi intelijen. Pada siang hari ia berbaur dengan kaum Quraisy di Makkah untuk memantau rencana musuh, lalu pada malam harinya mendaki ke Gua Tsur untuk melaporkan perkembangan situasi kepada Nabi SAW dan ayahnya.
- Asma binti Abu Bakar: Putri Abu Bakar yang pemberani, bertugas mengantarkan ransum bekal makanan dan air minum di malam hari melintasi medan bukit cadas yang gelap gulita. Beliau merobek ikat pinggang kainnya menjadi dua bagian untuk mengikat wadah bekal, hingga Rasulullah SAW menjulukinya sebagai Dzatun Nithaqain (Pemilik Dua Ikat Pinggang).
- Amir bin Fuhairah: Mantan budak yang menggembalakan kambing di belakang jejak langkah Abdullah dan Asma untuk menghapus jejak kaki mereka di atas padang pasir agar tidak terlacak oleh pelacak jejak (qafih) Quraisy, sekaligus menyediakan susu kambing segar bagi Nabi SAW dan Abu Bakar.
- Abdullah bin Uraiqith: Seorang penunjuk jalan non-Muslim yang terpercaya dan ahli navigasi gurun, disewa untuk menuntun rombongan melintasi jalur pesisir pantai barat yang tidak lazim menuju Madinah setelah tiga hari bersembunyi.
Keutamaan Pengorbanan Sahabat Abu Bakar yang Diabadikan Al-Qur'an
Kisah Gua Tsur adalah monumen abadi atas ketulusan cinta dan pengorbanan tanpa batas sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq kepada Rasulullah SAW. Sebelum Nabi SAW melangkah masuk ke dalam gua, Abu Bakar masuk terlebih dahulu untuk membersihkan bagian dalam gua, menyapu duri dan batu, serta merobek kain pakaiannya sendiri untuk menyumbat lubang-lubang sarang ular dan kalajengking agar tidak membahayakan sang Nabi.
Dalam satu riwayat disebutkan, ketika Nabi SAW tertidur pulas di pangkuan Abu Bakar karena kelelahan fisik, salah satu kaki Abu Bakar disengat binatang berbisa dari celah lubang yang tersisa. Kendati rasa sakitnya luar biasa menjalar ke seluruh tubuh, Abu Bakar menahan diri untuk tidak bergerak sedikit pun agar tidur Rasulullah SAW tidak terganggu, hingga air matanya menetes mengenai pipi mulia Nabi SAW. Rasulullah SAW kemudian terbangun dan meludahi bekas gigitan tersebut seraya mendoakannya, sehingga seketika itu pula racun dan rasa sakitnya sirna.
Ketika para pemburu Quraisy yang membawa sayembara hadiah 100 ekor unta berhasil melacak rute hingga berdiri persis di bibir Gua Tsur, Abu Bakar dilanda rasa cemas yang mendalam bukan karena mengkhawatirkan nyawanya sendiri, melainkan mengkhawatirkan keselamatan Rasulullah SAW. Abu Bakar berbisik lirih: "Wahai Rasulullah, sekiranya salah seorang dari mereka melihat ke bawah kakinya, niscaya mereka pasti akan melihat kita."
Dengan ketenangan iman yang menembus batas logika dunia, Rasulullah SAW memberikan jawaban agung yang diabadikan oleh Allah SWT dalam Al-Qur'an Surat At-Taubah ayat 40:
"Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita (Laa tahzan, innallaaha ma'anaa). Maka Allah menurunkan ketenangan kepada (Nabi Muhammad) dan membantu dengan bala tentara yang tidak kamu lihat..." (QS. At-Taubah: 40).
Dengan perlindungan ghaib Allah SWT yang menurut riwayat sirah melibatkan sarang laba-laba yang menutupi pintu gua serta merpati liar yang bersarang—pasukan Quraisy berbalik arah karena meyakini gua sempit tersebut sudah lama ditinggalkan dan tidak mungkin dimasuki manusia.
Mengenal Karakteristik Medan Pendakian Fisik Jabal Tsur
Bagi jamaah umroh yang berkesempatan mengikuti program napak tilas sejarah, memahami rute geografis Jabal Tsur sangat penting untuk menjaga kehati-hatian:
- Ketinggian dan Letak Geografis: Jabal Tsur terletak sekitar 5 sampai 6 kilometer di sebelah selatan Masjidil Haram. Gunung ini memiliki ketinggian sekitar 759 meter di atas permukaan laut, lebih tinggi dan memiliki kontur yang lebih terjal dibandingkan Jabal Nur.
- Karakteristik Jalur Pendakian: Berbeda dengan Jabal Nur yang jalur tangganya telah tertata semen rapi, jalur pendakian menuju puncak Jabal Tsur didominasi oleh bebatuan cadas lepas, tebing granit tajam, dan lereng yang sangat curam tanpa pegangan tangan yang memadai.
- Waktu Tempuh Pendakian: Pendakian dari kaki bukit hingga ke puncak Gua Tsur rata-rata membutuhkan waktu sekitar 2,5 hingga 3,5 jam perjalanan naik, dan sekitar 1,5 hingga 2 jam untuk perjalanan turun. Medan ini menuntut ketahanan kardio dan kekuatan otot tungkai kaki yang sangat prima.
- Bentuk Celah Gua Tsur: Gua Tsur memiliki dua lubang celah sempit di sisi barat dan timur. Ruang bagian dalamnya sangat pendek dengan langit-langit rendah, di mana seseorang harus merangkak atau menunduk rendah untuk dapat masuk ke dalamnya.
Panduan Keselamatan Fisik dan Tinjauan Fiqih Berziarah
Agar ziarah napak tilas di Jabal Tsur memberikan manfaat rohani yang mendalam dan terhindar dari marabahaya, perhatikan pedoman penting berikut:
1. Hindari Pendakian bagi Jamaah Berisiko Tinggi
Mengingat medannya yang sangat terjal dan menguras tenaga, pendakian fisik ke puncak Jabal Tsur sangat tidak disarankan bagi jamaah lanjut usia (lansia), wanita hamil, anak-anak kecil, serta penderita riwayat penyakit kardiovaskular, sesak napas, atau nyeri persendian tulang. Bagi rombongan jamaah umum, menyaksikan panorama Jabal Tsur dari area pelataran parkir bawah sambil mendengarkan pemaparan sirah nabawiyah dari muthawif sudah sangat mencukupi untuk mengambil pelajaran spiritual.
2. Menjaga Kemurnian Akidah Islam (Bebas Syirik dan Khurafat)
Tujuan disyariatkannya ziarah sejarah adalah untuk mengambil 'ibrah (pelajaran keteguhan iman) dan meneladani ketawakalan Nabi SAW serta para sahabat. Jamaah dilarang keras melakukan perbuatan-perbuatan yang menyelisihi syariat tauhid, seperti mengusap-usap dinding batu gua untuk mencari berkah magis, melempar uang koin, mengikat tali kain jimat, atau berdoa meminta hajat kepada kuburan atau bebatuan gunung. Berdoa memohon hajat kebaikan tetap wajib ditujukan semata-mata hanya kepada Allah SWT (Iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in).
3. Tidak Memaksakan Diri dan Menjaga Waktu Shalat Wajib
Jika ada jamaah yang memiliki fisik bugar dan bertekad mendaki gunung, pastikan tidak meninggalkan kewajiban shalat fardhu lima waktu secara berjamaah di Masjidil Haram, serta hindari mendaki di bawah terik matahari siang hari guna mencegah risiko stroke panas (heatstroke) dan dehidrasi akut.
Pelajaran Hidup (Ibrah) dari Peristiwa Jabal Tsur bagi Jamaah Umroh
Peristiwa persembunyian di Gua Tsur memberikan kurikulum kehidupan yang sangat mendalam bagi setiap Muslim dalam mengarungi dinamika kehidupan modern:
- Perpaduan Sempurna Antara Ikhtiar Maksimal dan Tawakal Mutlak: Rasulullah SAW tidak hanya pasrah menunggu keajaiban langit, melainkan merancang taktik persembunyian, mengatur intelijen, dan memanfaatkan rute laut yang mengecoh musuh. Setelah seluruh ikhtiar logis manusiawi dikerahkan maksimal, barulah beliau berserah diri sepenuhnya kepada ketetapan Allah SWT.
- Memilih Sahabat Sejati Penghubung Surga: Kisah kesetiaan Abu Bakar mengajarkan kita tentang pentingnya memilih sahabat dan lingkungan pergaulan yang siap mendampingi kita dalam suka maupun duka, serta saling mengingatkan untuk senantiasa bertakwa kepada Allah.
- Optimisme di Tengah Kesempitan Hidup: Kalimat Laa tahzan, innallaaha ma'anaa (Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita) adalah oase penenang bagi jiwa manusia yang sedang menghadapi badai ujian finansial, penyakit raga, maupun persoalan keluarga. Selama kita menjaga hubungan dengan Allah, pertolongan-Nya pasti akan tiba pada saat yang paling tepat.
FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)
- Apakah mendaki ke puncak Gua Tsur merupakan bagian dari ibadah wajib umroh?
Bukan. Mendaki Jabal Tsur sama sekali bukan merupakan rukun, wajib, ataupun syarat sah ibadah umroh. Kegiatan ini murni ziarah sejarah (napak tilas) yang bernilai edukasi sejarah. Ibadah umroh seseorang tetap sah dan mabrur seutuhnya meskipun tidak pernah mendaki ke puncak Jabal Tsur.
- Berapa jarak dari Masjidil Haram ke lokasi Jabal Tsur?
Jarak tempuh berkendara menggunakan bus atau taksi dari kawasan Masjidil Haram menuju kaki Jabal Tsur adalah sekitar 5 sampai 6 kilometer ke arah selatan, dengan waktu perjalanan normal sekitar 15 hingga 20 menit tergantung kepadatan lalu lintas kota Makkah.
Kesimpulan dan Wujudkan Perjalanan Umroh Penuh Makna Bersama Sadar Group
Menatap keagungan Jabal Tsur membangkitkan kembali memori tentang betapa beratnya tetesan darah dan keringat para pendahulu umat Islam dalam memperjuangkan tegaknya kalimat tauhid di muka bumi. Ziarah yang dibarengi dengan pemahaman sirah yang mendalam, fisik yang terjaga, serta akidah yang murni akan menjadikan perjalanan ibadah umroh Anda di tanah suci bukan sekadar ritual ibadah lahiriah, melainkan sebuah transformasi ruhiyah yang membekas indah sepanjang hayat. Percayakan perjalanan ibadah suci Anda ke tanah haram bersama biro perjalanan berizin resmi PPIU PT Sahabat Dua Arah (Sadar Group). Silakan kunjungi kantor resmi PT Sahabat Dua Arah untuk memilih paket umroh terbaik, panduan manasik sesuai sunnah, program tabungan dan cicilan syariah, serta pendampingan ziarah napak tilas sejarah Islam yang berkualitas.
RASAKAN KEKHUSYUKAN IBADAH DAN ZIARAH BERSAMA SADAR GROUP
Tersedia paket umroh reguler dan plus ziarah sejarah haramain lengkap bersama pembimbing ibadah berpengalaman dan berizin resmi Kemenag RI.
Alamat PT. Sahabat Dua Arah
- Kantor Pusat: Jl. Panglima Denai No 80 C Medan Amplas, Kota Medan, Sumatera Utara
- Kantor Area Jawa: Ruko Taman Topi Square, Jl. Kapten Muslihat No 07 RT 003/RW 001, Cibogor, Kota Bogor, Jawa Barat
- Kantor Cabang Kepulauan Riau: Tunas 1 Industrial Estate, Blok D No 4 Belian, Kec. Batam Kota, Kepulauan Riau
