Bagi setiap jamaah yang menjejakkan kaki di tanah suci Madinah Al-Munawwarah dalam rangka menunaikan rangkaian ibadah umroh maupun haji, menelusuri jejak-jejak monumental sejarah Islam selalu menghadirkan kekaguman ruhiyah yang mendalam. Di antara deretan destinasi ziarah utama di kota bercahaya ini, Masjid Qiblatain atau Masjid Dua Kiblat menempati kedudukan historis yang sangat istimewa dalam tatanan syariat ibadah umat Islam.
Terletak di kawasan barat laut kota Madinah di lereng bukit vulkanik Harrah Wabarah, masjid berkubah putih anggun ini menjadi saksi bisu salah satu peristiwa paling menentukan dalam sejarah kenabian: turunnya perintah Allah SWT untuk mengalihkan arah kiblat shalat kaum Muslimin dari Masjidil Aqsha di Baitul Maqdis (Palestina) menuju Ka'bah di Masjidil Haram (Makkah). Peristiwa agung ini bukan sekadar pergeseran kompas geografis saat bersujud, melainkan ujian keimanan mutlak tentang ketundukan, kemurnian tauhid, serta penetapan identitas kemandirian umat Islam sebagai ummatan wasathan (umat pertengahan).
Menggali sejarahnya, merenungi ayat-ayat Al-Qur'an yang melatarbelakanginya, serta mempraktikkan adab ziarah syar'i di Masjid Qiblatain adalah bekal berharga yang menyempurnakan makna perjalanan ibadah umroh Anda.
Ringkasan Artikel: Panduan edukasi sirah nabawiyah dan ziarah sejarah haramain persembahan biro perjalanan umroh resmi PT Sahabat Dua Arah ini membedah tuntas sejarah Masjid Qiblatain dan peristiwa agung perpindahan arah kiblat. Ulasan mengkaji kerinduan Rasulullah SAW yang diabadikan dalam Al-Qur'an Surat Al-Baqarah ayat 144, kronologi pergeseran saf jamaah di tengah pelaksanaan shalat berjamaah, reaksi kaum Yahudi dan orang-orang munafik, transformasi arsitektur kubah kembar Masjid Qiblatain modern, adab-adab syar'i mendirikan shalat sunnah di dalamnya, hingga alamat kantor resmi perwakilan Sadar Group di Medan, Bogor, dan Batam.
Latar Belakang Historis: Menghadap Baitul Maqdis Selama 16 Sampai 17 Bulan
Ketika syariat shalat fardhu lima waktu pertama kali diwajibkan pada peristiwa Isra' Mi'raj di Makkah, Rasulullah SAW bersama para sahabat berkiblat ke arah Baitul Maqdis (Masjidil Aqsha di Yerusalem). Selama di Makkah, kecintaan beliau kepada Ka'bah yang dibangun oleh Nabi Ibrahim AS membuat Rasulullah SAW mengambil posisi shalat di antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad, sehingga beliau dapat menghadap ke arah Ka'bah sekaligus searah dengan Baitul Maqdis di utara.
Namun setelah peristiwa hijrah ke Madinah, posisi geografis kota Madinah berada persis di antara Makkah di sebelah selatan dan Yerusalem di sebelah utara. Kondisi ini membuat kaum Muslimin tidak lagi dapat menghadap ke dua arah tersebut secara bersamaan. Jika menghadap Baitul Maqdis ke utara, maka Ka'bah di Makkah berada persis di belakang punggung mereka.
Kepatuhan terhadap perintah syariat membuat Rasulullah SAW dan para sahabat tetap berkiblat ke Baitul Maqdis selama kurang lebih 16 hingga 17 bulan pasca hijrah. Situasi ini kerap dijadikan bahan ejekan oleh kaum Yahudi di Madinah, yang mengklaim bahwa ajaran Nabi Muhammad SAW menentang ajaran mereka tetapi tetap mengekor kiblat ibadah mereka.
Kerinduan Rasulullah SAW dan Turunnya Surat Al-Baqarah Ayat 144
Rasulullah SAW memendam kerinduan mendalam di dalam kalbunya agar Allah SWT menetapkan Ka'bah (pusat ketauhidan yang dibangun oleh bapak para nabi, Ibrahim AS) sebagai kiblat abadi umat Islam. Beliau sering menengadahkan wajah mulianya ke arah langit seraya berdoa dalam keheningan, menantikan datangnya wahyu Malaikat Jibril AS yang membawa kabar gembira tersebut.
Kerinduan tulus sang Nabi dijawab oleh Allah SWT pada bulan Sya'ban tahun 2 Hijriah (sekitar tahun 624 Masehi). Allah menurunkan wahyu agung yang diabadikan dalam Al-Qur'an Surat Al-Baqarah ayat 144:
"Sungguh Kami melihat wajahmu (Muhammad) sering menengadah ke langit, maka tentulah Kami akan memalingkanmu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah wajahmu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang yang diberi Kitab (Taurat dan Injil) tahu bahwa (pemindahan kiblat) itu adalah kebenaran dari Tuhan mereka; dan Allah tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan." (QS. Al-Baqarah: 144).
Detik-Detik Bersejarah Shalat Menghadap Dua Kiblat
Peristiwa perpindahan arah kiblat ini terjadi secara dramatis di perkampungan Bani Salamah. Ketika itu, Rasulullah SAW sedang berkunjung dan dijamu makan siang oleh seorang wanita mulia bernama Ummu Bisyr binti Al-Bara' bin Ma'rur radhiyallahu 'anha. Waktu shalat Dzuhur (sebagian riwayat menyebut shalat Ashar) pun tiba, lalu Rasulullah SAW memimpin para sahabat menunaikan shalat berjamaah di masjid perkampungan tersebut, yang kala itu dinamai Masjid Bani Salamah.
Ketika shalat baru berjalan sebanyak dua rakaat dengan posisi menghadap ke Baitul Maqdis di utara, Malaikat Jibril AS turun membawa perintah pemindahan kiblat melalui ayat di atas. Tanpa membatalkan shalatnya, Rasulullah SAW seketika itu juga memutar tubuhnya sebesar 180 derajat ke arah selatan menuju Ka'bah di Makkah.
Menyaksikan gerakan luar biasa tersebut, seluruh makmum sahabat di belakang beliau (baik saf laki-laki maupun wanita) secara serentak ikut berputar mengikuti arah imam tanpa ragu dan tanpa banyak bertanya. Dua rakaat tersisa diselesaikan dengan menghadap ke arah Ka'bah. Sejak detik monumental di mana dua rakaat menghadap Baitul Maqdis dan dua rakaat menghadap Ka'bah dilaksanakan dalam satu shalat yang sama, masjid bersejarah ini abadi dengan nama Masjid Qiblatain (Masjid Dua Kiblat).
Pelajaran Ketaatan Mutlak: Ketundukan Sahabat Tanpa Keraguan
Peristiwa pemindahan arah kiblat di Masjid Qiblatain menyajikan kurikulum ketauhidan yang sangat agung bagi umat Islam. Bagi para sahabat Nabi SAW, peristiwa ini adalah bukti nyata dari tingkatan iman sami'na wa atha'na (kami mendengar dan kami taat). Mereka tidak menunggu shalat selesai untuk meminta penjelasan rasional, melainkan langsung berputar seketika karena keyakinan bulat bahwa perintah Nabi SAW adalah kebenaran mutlak dari Allah SWT.
Sebaliknya, peristiwa ini menjadi sarana seleksi batin yang menyaring kaum munafik dan orang-orang yang ragu-ragu di Madinah. Orang-orang bodoh (as-sufaha') dari kalangan Yahudi dan munafik mulai mencela dengan berkata: "Apakah yang memalingkan mereka (kaum Muslimin) dari kiblat yang dahulunya mereka telah berkiblat kepadanya?"
Allah SWT langsung membungkam celaan tersebut melalui firman-Nya dalam Surat Al-Baqarah ayat 142:
"Katakanlah (wahai Muhammad): Kepunyaan Allah-lah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus." (QS. Al-Baqarah: 142).
Ayat ini menegaskan hakikat tauhid bahwa timur, barat, utara, dan selatan adalah milik Allah SWT semata. Kiblat bukanlah zat yang disembah, melainkan simbol pemersatu barisan umat beriman yang wajib ditaati ke mana pun Allah memerintahkannya.
Transformasi Arsitektur Modern Masjid Qiblatain
Masjid Qiblatain telah melalui berbagai tahap pemugaran sepanjang sejarah kekhalifahan Islam, mulai dari era Khalifah Umar bin Abdul Aziz hingga era Kesultanan Utsmaniyah. Namun, transformasi paling megah terjadi di era Kerajaan Arab Saudi modern di bawah kepemimpinan Raja Fahd bin Abdul Aziz pada tahun 1987, serta penyempurnaan proyek penataan kawasan haramain yang berkelanjutan.
Ciri khas arsitektur Masjid Qiblatain saat ini sangat memesona:
- Dua Kubah Simbolis: Desain atap masjid dirancang unik dengan dua kubah utama. Kubah pertama berada di atas mihrab utama yang menghadap Ka'bah di Makkah, sedangkan kubah kedua berada di sisi seberangnya di bagian utara sebagai pengingat simbolis posisi kiblat lama yang mengarah ke Baitul Maqdis.
- Menara Kembar Artistik: Masjid ini diapit oleh dua menara putih ramping yang menjulang setinggi puluhan meter, mengadopsi perpaduan gaya arsitektur tradisional Hijaz dengan sentuhan modernitas Islam kontemporer.
- Kapasitas Jamaah yang Luas: Ruang shalat bertingkat dilengkapi karpet tebal, pendingin ruangan sentral yang sejuk, serta fasilitas pelataran luar yang sanggup menampung lebih dari 4.000 jamaah sekaligus.
- Pembersihan Mihrab Kuno Demi Kemurnian Akidah: Dahulu, di dinding utara masjid terdapat tanda mihrab kecil lama yang menghadap ke Baitul Maqdis. Namun demi menjaga ketertiban manasik dan mencegah kebingungan atau perbuatan ghuluw dari jamaah yang shalat menghadap ke arah yang salah, otoritas urusan haramain telah meratakan dinding utara tersebut dan memfokuskan seluruh penanda shalat hanya pada mihrab utama yang sah menghadap Ka'bah.
Panduan Rute Transportasi dan Adab Berziarah di Masjid Qiblatain
Masjid Qiblatain terletak sekitar 5 sampai 6 kilometer di sebelah barat laut Masjid Nabawi. Dalam rangkaian program paket umroh PT Sahabat Dua Arah, kunjungan ke Masjid Qiblatain termasuk dalam rute resmi City Tour Ziarah Kota Madinah menggunakan bus pariwisata ber-AC kelas eksekutif yang didampingi oleh muthawif bersertifikasi.
Bagi jamaah yang ingin berkunjung secara mandiri, perjalanan dapat ditempuh menggunakan taksi kota atau transportasi online dengan waktu tempuh sekitar 10 hingga 15 menit dari kawasan pelataran Masjid Nabawi.
Adab Syar'i Saat Berada di Masjid Qiblatain:
- Menunaikan Shalat Sunnah Tahiyyatul Masjid: Setibanya di ruang shalat utama, laksanakan shalat sunnah dua rakaat dengan tuma'ninah menghadap ke arah kiblat Ka'bah yang sah.
- Meluruskan Pemahaman Akidah: Jangan pernah mencoba mendirikan shalat menghadap ke arah utara (kiblat lama Baitul Maqdis), karena syariat menghadap ke Baitul Maqdis telah mansukh (dihapus hukumnya) secara resmi oleh ketetapan Al-Qur'an. Menghadap kiblat Ka'bah adalah syarat sah shalat yang wajib dipenuhi oleh seluruh umat Islam di seluruh penjuru bumi hingga hari kiamat.
- Merenungi Makna Ketaatan Ibadah: Jadikan momentum kunjungan ini untuk mengevaluasi diri: sejauh mana ketaatan kita dalam menjalankan perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya dalam kehidupan sehari-hari tanpa mencari-cari alasan pembenaran diri.
- Menjaga Ketenangan dan Kebersihan Masjid: Hindari berdesak-desakan, berbicara dengan suara gaduh, serta jaga kebersihan seluruh area masjid dari sampah plastik atau tisu demi memuliakan rumah Allah.
FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)
- Apakah shalat di Masjid Qiblatain memiliki keutamaan pahala setara umroh seperti Masjid Quba?
Tidak. Hadits shahih mengenai pahala shalat yang setara dengan ibadah umroh secara khusus hanya disabdakan oleh Rasulullah SAW untuk Masjid Quba. Namun, shalat di Masjid Qiblatain tetap memiliki keutamaan ibadah di tanah haram Madinah serta bernilai pahala sunnah ziarah untuk mengambil pelajaran sejarah Islam yang agung.
- Kapan waktu perubahan arah kiblat terjadi dalam penanggalan Hijriah?
Mayoritas ulama tarikh (sejarah) berpendapat bahwa peristiwa perubahan arah kiblat terjadi pada pertengahan bulan Sya'ban tahun 2 Hijriah, sekitar 16 sampai 17 bulan setelah Rasulullah SAW menetap di kota Madinah.
- Apakah Masjid Qiblatain menyediakan ruang shalat khusus untuk jamaah wanita?
Ya. Masjid Qiblatain memiliki area lantai mezanin khusus yang sangat luas, bersih, dan nyaman bagi jamaah wanita, lengkap dengan fasilitas tempat wudhu dan toilet terpisah.
Kesimpulan dan Renungkan Ketundukan Iman Bersama Sadar Group
Berdiri di dalam keheningan Masjid Qiblatain menghidupkan kembali getaran kepatuhan para sahabat yang berputar serentak di tengah shalat demi menaati firman Tuhannya. Ziarah yang dilandasi ilmu sejarah yang benar, kemurnian akidah, serta bimbingan manasik yang amanah akan menjadikan perjalanan umroh Anda di tanah haram sarat dengan hikmah kehidupan yang mengokohkan kompas moral dan spiritual keluarga Anda. Percayakan perjalanan ibadah suci Anda ke tanah suci Makkah dan Madinah bersama biro perjalanan berizin resmi PPIU PT Sahabat Dua Arah (Sadar Group). Silakan kunjungi kantor resmi PT Sahabat Dua Arah untuk memilih jadwal keberangkatan umroh reguler dan plus, bimbingan manasik komprehensif, serta fasilitas ziarah sejarah haramain yang berkualitas.
NIKMATI ZIARAH PENUH HIKMAH DI HARAMAIN BERSAMA SADAR GROUP
Tersedia paket umroh reguler & plus ziarah sejarah lengkap, bimbingan manasik sesuai sunnah, dan pembimbing berpengalaman berizin resmi Kemenag RI.
Alamat PT. Sahabat Dua Arah
- Kantor Pusat: Jl. Panglima Denai No 80 C Medan Amplas, Kota Medan, Sumatera Utara
- Kantor Area Jawa: Ruko Taman Topi Square, Jl. Kapten Muslihat No 07 RT 003/RW 001, Cibogor, Kota Bogor, Jawa Barat
- Kantor Cabang Kepulauan Riau: Tunas 1 Industrial Estate, Blok D No 4 Belian, Kec. Batam Kota, Kepulauan Riau
